Tampilkan postingan dengan label Ahmad Adi Andriana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Adi Andriana. Tampilkan semua postingan

Mereka yang hidup di persimpangan


Oleh: Ahmad Adi Andriana

Umat itu terlahir dari interaksi panjang dengan al Quran. Hadir di titik antara harapan dan takdir. Tumbuh untuk menjadi idealisme sejarah tentang kedewasaan optimal. Dan hidup untuk menjadi hidayah dan hadiah bagi kemanusiaan. Bermula dari ruang sempit di atas puncak Jahiliah di abad ke-enam dan kemudian memutarbalikan realitas dari akar menjadi buah, dari sampah terbuang menjadi intan berharga dan dari gersang menjadi mata air dunia.

Setelah itu mengukuhkan diri sebagai satu-satunya umat yang memiliki susunan batu bata: wahyu terotentik diantara kitab suci yang turun dari langit. Akidah pemersatu sepanjang garis sejarah, tetap berdiri di atas perbedaan geografi tanah, bahasa dan ras. Syariat pemandu perjalanan, jaminan sampai di titik kebahagiaan dunia dan akhirat. Ruh jihad pelepas rantai ketidakadilan, dalam kurun waktu delapan puluh tahun lebih luas daripada yang mampu dilakukan Romawi selama delapan abad. Warisan turats yang kaya dan melimpah, menjadi ibu asuh bagi bangsa Barat meraih kedewasaan dan kebangkitan dari kegelapan abad pertengahan. Tanah air terluas, tanpa sekat dan garis pemisah negara. Peradaban berwarna Islam, merangkai peradabanya dengan tenunan keseimbangan dan prinsip agung tanpa batas ruang dan waktu. Dan umat itu, umat Islam namanya.

Tapi langit tak selamanya cerah, selalunya ada awan mendung menutupinya. Tepat setelah penjajah menginjakan kaki, putaran haluan mulai merambah. Sebagai contoh jika sejarah sebelum itu selalu menempatkan Islam sebagai marja dalam menjawab setiap tantangan, maka setelah itu berputar menjadi dua marja. Islam dan Barat. Itulah mengapa setiap ijtihad dan pembaharuan dari berbagai titik tolak sebelum itu tidak pernah ditandai dengan label Islami, karena memang tidak ada alternatif lain selain Islam.

Inilah saat yang disebut persimpangan sejarah, dan para pahlawan biasanya selalu hadir di titik itu. Maka tercatatlah nama Jamaludin al Afgani, seorang revolusioner kebangkitan dan hentakan. Muhammad Abduh, seorang pembaharu dunia dengan agama. Yang kemudian bertransformasi ke dalam sebuah gerakan bernama al Jamiah al Islamiyah. Dengan memiliki dua sayap, satu di Timur dan lainya di Magrib. Di Timur di bawah seorang pemikir Abdurahman al Kawakibi dan di Magrib di tangan Abdurahman bin Badis.

Dari merekalah ide-ide besar muncul. Ide besar tentang perubahan. Bahwa perubahan itu hanya bisa digapai dengan alternatif Islam dan dari dalam lipatan kain pemikiran islam. Bukan selainnya. Oleh sebab itu Afgani misalnya, mengatakan “obat paling mujarab bagi kemunduran umat Islam hanya terdapat jika dikembalikan pada kaidah agamanya, dan siapa yang mencari perbaikan dengan jalan selainnya maka ia telah melakukan kekeliruan besar. Tujuanya akan terjungkir balik; umat tidak akan bertambah apapun kecuali kemalangan dan tidak akan mendapatkan apapun kecuali kesengsaraan” karena menurutnya “agama, adalah sebab kebahagiaan manusia, jika agama itu murni dan benar sesuai perintah Ilahi, tanpa tercampur dengan kerancuan dari orang yang meyakininya. Agama itu akan menjadi sumber kebahagiaan sempurna dan kenikmatan luar biasa yang akan membawa pemeluknya ke tingkatan teratas kesempurnaan dan puncak keutamaan”.

Atau Abduh, menyatakan ”Islam adalah satu satunya jalan perbaikan bagi umat Islam dan realitasnya, itu karena jiwa mereka telah tunduk, bahkan telah menjadi karakter di dalam struktur kepribadian, maka orang yang mencari perbaikan di luar agama, telah menanam benih di atas tanah yang tidak cocok, sehingga tidak akan tumbuh apapun, dan hanya menyia-nyiakan lelah dan merapat dengan kegagalan”.

Ciri ciri ide mereka adalah; salafiyah, rasionalisme dan pencerahan. Salafiyah berarti mengambil aqidah, tanpa khurofat dan bersih dari segala penambahan. Rasionalisme berarti menyatukan nash dan akal, tanpa ada pertentangan. Dan pencerahan berarti memandang ke depan, tanpa hanya pada masa lalu. Sebagai sebuah dasar kokoh untuk menghadapi gaya berfikir abad pertengahan yang cenderung pada kejumudan, statis dan tidak berkembang, yang menjadi icon penolakan terhadap fungsi dan anugerah akal yang sempurna. Kemudian menjadi dasar kuat dalam keikutsertaan bersama demokrasi untuk menekan arus kediktatoran dan teokrasi. Dan pada akhirnya adalah sebuah upaya mengusir penjajahan yang telah menghapus jati diri peradaban dan kembali membangun sebuah peradaban menjulang dengan tenunan rapat keseimbangan dan prinsip luhur tanpa mengenal batas ruang dan waktu, sehingga kembali menjadi hadiah dan hidayah bagi kemanusiaan yang sedang sekarat dan telah parau berteriak meminta kehadiran sang penyelamat.

Bukan berarti tertutup dan mengucilkan diri, karena menurut Abduh, setelah ia mengatakan warisan agama adalah marja dalam pembaharuannya. Sementara itu pembaharuan sistem menuntut bantuan dari setiap praktek, pemikiran, teori, pengalaman, dan ilmu pengetahuan yang telah Diciptakan manusia, baik sebelum islam maupun setelahnya. Dari muslim maupun non Islam. Atau dengan kata katanya, ”seandainya Allah menganugrahkan seorang pemimpin, yang paham akan agama, untuk mengatur mereka (umat Islam) dengan kebijakanya, maka engkau akan melihat mereka bangkit dengan al Qur’an di salah satu tanganya dan apa yang telah ditemukan pendahulu mereka dan yang diciptakan selain mereka ada di tangan sebelahnya”.

Namun bukan berarti ketika mereka tiada ide-ide itu ikut menemani ketiadaan karena ide itu tidak akan pernah mati di telan waktu, ia akan tetap hidup bernafas menghembuskan harapan, walau bukan dengan jalan lamunan, tapi ide itu tetap hidup dengan jalan estafeta sejarah, atau oleh sejarah itu sendiri, karena sejarah seperti kata Malik bin Nabi adalah, ”gerak tangan, langkah kaki, denyut hati, dan kecerdasan akal.” Dan 31 tahun setelah wafatnya al Afgani, ide-ide itu merumput menjadi sebuah gerakan rekonsiliasi yang didesain oleh tangan Hasan al Banna, menjadi sebuah gerakan terbesar, terkuat dan paling berpengaruh di abad modern, menurut pandangan yang pro maupun kontra denganya. Ide-ide itu jika sebelumnya hanya milik kalangan elit maka dengan gerakan itu menjadi konsumsi umat, karena memang mereka berhak memilikinya, dengan sebuah gerak yang tak mengenal arti perputaran jam waktu, sehingga banyak yang memprediksikan inilah awal kebangkitan Islam itu.

Selengkapnya......

Memaknai Kecerdasan


Oleh: Ahmad Adi Andriana

“Apa tujuan ke Mesir?” Belajar. Belajar dalam ruang lingkup akademis. Sebuah jargon lama dan nasihat berulang dari mulut senior. Semakin lama itu terulang, semakin mengakar dan mendarah daging tersimpan di alam bawah sadar. Menjadi kata terucap tanpa datang dari lubuk kesadaran penuh penghayatan. Kemudian timbul klasifikasi orang dari jargon itu; bodoh dan pintar, berbakat tidak berbakat, masa depan cerah atau masa depan suram. Tapi bukankah itu menyesatkan. Keliru dan membawa pada dunia kering dan penuh ketidakpastian. Bertujuan baik tapi bertentangan dengan penelitian. Membatasi belajar dengan hanya satu potensi kecerdasan. Dan memelihara penjajahan nilai diri berdasar kasta dari tingkat kecepatan memahami kata. Dan kiranya lebih tepat “apa tujuan ke Mesir?” Berproses. Yah untuk berproses.

Itu menyesatkan karena penelitian modern membagi kecerdasan kepada tujuh bentuk; linguistik, kinestetik, spasial, logika matematis, musik, interpersonal, dan intrapersonal. Kemudian menilai serampangan dengan meratakan secara paksa potensi setiap orang, sehingga membunuh hasrat atau dengan arti lain memadamkan motivasi, antusiasme, gairah, dorongan, ambisi, semangat menyala dan mata yang bersinar: membuatnya tidak mampu berkontribusi karena kehilangan kreativitas dan produktivitas. Karena hasrat adalah misteri di balik keyakinan dan harapan yang menjadi pondasi awal meledaknya kreatifitas dan produktifitas. Dan sebuah klasifikasi buta berdasar tradisi. Bukan berdasar potensi.

Sebenarnya semua itu terbentuk oleh kurikulum pendidikan yang hanya memenuhi satu kecenderungan; kecerdasan logika matematis. Dan Itu tetap terpelihara oleh persepsi tanpa sadar. Kemudian menjadi warisan dari generasi ke generasi berikutnya. Dan akhirnya penyamarataan membabi buta. Seperti sebuah ilustrasi kisah menarik berikut:
Alkisah, binatang-binatang memutuskan bahwa mereka harus berbuat sesuatu yang heroik untuk mengatasi masalah ‘dunia baru’. Merekapun mendirikan sebuah sekolah. Mereka menggunakan kurikulum kegiatan yang terdiri atas berlari, memanjat, berenang, dan terbang. Untuk memudahkan administrasi, semua binatang mengambil semua mata pelajaran.

Bebek ahli sekali dalam berenang, lebih baik sebenarnya dibandingkan gurunya, dan memperoleh hasil yang bagus sekali dalam pelajaran terbang, tetapi ia sangat buruk dalam berlari. Karena lambat dalam berlari, ia harus tinggal sesudah sekolah usai dan juga melepaskan pelajaran berenang untuk berlatih lari. Ini diteruskan hingga kakinya yang berselaput pecah-pecah dan kemampuan renangnya menjadi sedang-sedang saja. Tetapi kemampuan yang sedang-sedang saja dapat diterima di sekolah, jadi tak seorangpun khawatir soal itu selain si bebek.

Kelinci memulai sebagai murid terpandai di kelas dalam pelajaran berlari, tetapi mengalami gangguan mental karena harus belajar berenang.

Tupai ahli sekali dalam memanjat sebelum ia frustasi dalam pelajaran terbang karena gurunya menyuruhnya memulai dari tanah ke atas dan bukan dari puncak pohon ke bawah. Ia juga menderita kejang-kejang pada kaki dan tanganya karena latihan yang berlebihan dan ia mendapat C untuk memanjat dan D untuk berlari.

Elang adalah anak yang suka menimbulkan masalah dan harus didisiplinkan dengan keras. Dalam pelajaran memanjat ia mengalahkan semua yang lain menuju puncak pohon, tetapi ia berkeras menggunakan caranya sendiri untuk tiba di sana.

Pada akhir tahun ajaran, seekor belut abnormal yang dapat berenang dengan luar biasa dan juga dapat berlari, memanjat, dan terbang sedikit mendapat nilai rata-rata tertinggi dan mengucapkan pidato perpisahan.

Anjing padang rumput tidak diterima di sekolah dan menentang pungutan pajak karena tata usaha sekolah tidak mau menambahkan pelajaran menggali dan bersembunyi pada kurikulum. Mereka menitipkan anak-anak mereka pada luak dan belakangan bergabung dengan tikus tanah dan marmut tanah untuk memulai sekolah swasta yang berhasil.

Maka sebenarnya tidak ada klasifikasi, kasta, strata dan perbedaan. Semua sama, memiliki potensi kecerdasan masing-masing yang beragam dan bervariasi. Tidak ada tempat untuk kata bodoh dan pintar, hanya ada kata rajin dan malas. Itu saja. “Itulah mengapa” kata Anis Matta dalam sebuah ceramahnya, ”Umar bin Khottob di dalam sejarah tidak pernah diperintahkan sekalipun untuk memimpin sebuah peperangan, yang diperintahkan justru Kholid bin Walid, itu bukan karena Umar tidak bisa memimpin peperangan tetapi karena ia mampu melakukan lebih daripada itu. Ia mampu memimpin kekhilafahan. Dan Kholid bin Walid belum tentu sukses jika diminta memimpin negara, walaupun juga apakah Umar bisa sesukses Kholid bin Walid jika memimpin pasukan yang sama dan menghadapi momentum peperangan yang sama sulitnya”.

Ibnu al Qayyim misalnya, membuat daftar ilmuwan-ilmuwan muslim setelah Rasul wafat. Berjumlah seratus sampai seratus sepuluh orang. Kemudian ia mengklasifikasikanya menjadi tiga tingkatan. Dan dari tujuh ilmuwan terbesar di kalangan sahabat nama Abu Bakar tidak tercantum di dalamnya, tapi sejarah mencatatnya sebagai khalifah pertama.

Paradigma ini mungkin terkesan idealis. Tapi bukankah Allah telah memberikan ruang untuk adanya perubahan dengan firman-Nya, “sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. Dan mari masih ada waktu, peluang dan kesempatan untuk mengembangkan bakat kecerdasan bervariasi itu. Melepas semua stereotif yang selama ini menyuburkan keterbatasan dan menggantinya dengan sebuah optimisme, bahwa kita ada bukan untuk menjadi orang lain tapi berkontribusi berdasar kapasitas kita masing masing yang variatif. Masa lalu biarlah berlalu, ia telah menjadi abu bersama waktu. Semoga dengan ini terbentuk sebuah tatanan sistem saling menghargai dan menghormati.

Selengkapnya......

IMPERIUM ABAD INI


Oleh: Ahmad Adi Andriana

Imperium terbesar abad ini sedang sekarat oleh gerogotan krisis ekonomi yang menyerangnya: tepat di pusat nadinya, mengakibatkan saluran efektivitas tiba-tiba mengalami gangguan. Bahkan sebagian pengamat memprediksikan bahwa inilah tanda-tanda sang penguasa itu akan tumbang, dan mau tidak mau harus menyerahkan kebesaranya pada tunas baru yang sedang berkembang. Sebuah fakta pembenaran tentang hukum perputaran secara kasar, walau lebih tepatnya adalah konsekwensi rasional dari logika kaidah sufistik, ”ketika mencapai puncak kesempurnaan maka di situlah awal kemunduran. :) ”

Sebelum krisis sang penguasa imperium itu memiliki kelebihan dibandingkan imperium lainnya yang pernah tercatat sejarah; ia memiliki kekuatan perekonomian dan finansial yang lebih besar, ia menggunkan kemajuan di berbagai bidang untuk memuluskan segala tujuanya, ia hidup dalam kodisi aman dari berbagai ancaman secara langsung terhadap tanah dan penduduknya, ia mampu mengumpulkan sumber daya dalam jumlah berlimpah yang memperkuat daya tahan dan kepercayaan diri bahkan kadang pada batas berlebihan, ia memiliki penguasaan senjata yang bersinergi dengan teknologi yang tidak pernah dikenal oleh imperium sebelumnya, ia mampu menawarkan dirinya sebagai idealis sistem alternatif modern, ia bergaya “sok berkuasa” yang lebih berani dan mampu melewati perbatasan geografis maupun politis secara leluasa tanpa hambatan negara tertentu, ia mampu mencuri kesadaran negara dan bangsa lainya dengan media massa yang disetir dalam pembentukan opini dunia. Ia telah sampai pada puncak kesempurnaan.

Tapi setiap yang bernafas memiliki batas ajalnya setelah melewati masa. Kanak-kanak, remaja, dewasa, tua renta dan mencium tanah; sunnatulah yang tidak akan berubah dan bergeser sejengkalpun. Sebuah imperium mengalami hal yang tidak jauh berbeda, karena termasuk yang bernafas dengan manusia penghuninya, saat mencapai usia puncaknya, kemunduran terjadi secara pasti, karena ketika itu ia telah menggunakan seluruh yang dimilikinya sampai pada batas tertentu yang berarti ketika itu pula ia telah menghabiskanya dalam kadar dan jumlah yang sama.

Sebuah pertanyaan besar, siapakah pengganti atau tunas baru yang akan tumbuh menempati kedudukan sebagai imperium berikutnya? Ada yang memprediksikan Cina dan India penggantinya, tapi itu hanya sebuah prediksi belaka, walau memang sedang terlihat geliatnya. Di samping itu juga hukum “kemungkinan” tetap ada. Tidak akan bergeser. Kemudian dengan membalikan standar “saat mencapai usia puncaknya, kemunduran terjadi secara pasti, karena ketika itu ia telah menggunakan seluruh yang dimilikinya sampai pada batas tertentu -yang berarti ketika itu pula ia telah menghabiskanya dalam kadar dan jumlah yang sama, menjadi standar ketika belum digunakan sampai batas tertentu yang berarti belum dihabiskan dalam kadar dan jumlah yang sama maka kemungkinan mencapai puncak terbuka lebar.

Dan dengan agak ragu -walau hukum kemungkinan tetap ada- akankah Indonesia berhak untuk itu? Karena Indonesia menurut ust. Fatcholis yang dimuat dalam buletin Muara edisi ketiga Maret 2008 memiliki sumber daya alam; Pertama; Penghasil bahan tambang terbesar: timah no: 1 di dunia, batu bara no: 2 di dunia, tembaga no: 3 di dunia, nikel no: 5 di dunia, emas no: 7 di dunia, penghasil 80 % minyak di Asia Tenggara, penghasil 35 % gas alam cair di dunia(sumber:price water house coopers). Kedua; memiliki kandungan alam hayati yang cukup besar: Salah satu yang terkaya dan terluas hutan dan keanekaragaman hayatinya, memiliki 515 jenis mamalia (urutan kedua hanya kalah tipis dengan Brazil), 397 jenis burung yang hanya dapat ditemukan di indonesia, memiliki 1400 jenis ikan tawar ( yang hanya dapat disaingi oleh Brazil), memiliki jenis terumbu karang dan ikan laut yang luar biasa, termasuk 97 jenis ikan karang yang hanya hidup di perairan indonesia, memiliki 477 jenis palem (terbanyak di dunia). Ketiga; negeri yang memiliki jumlah pulau terbanyak: jumlah pulau yang pasti saat ini berjumlah 17.504, pulau yang sudah memiliki nama 7.870, pulau yang belum memiliki nama 9.364(sumber: Kompas), memiliki sumber daya manusia; pertama; salah satu negara berpenduduk terbanyak, no 4 setelah China, India dan Amerika.

Pada tahun 2000 sebanyak 203,4 juta jiwa, dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 273,65 juta jiwa, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 1,35% pertahun, dan pada tahun 2050 diperkirakan akan bertambah menjadi 400 juta jiwa (sumber: badan kependudukan nasional). Kedua; memiliki jumlah penduduk muslim sebesar 84% (terbesar di dunia).

Tentu dengan paradoks; Indonesia di tempatkan sebagai negara terkorup no 1 di Asia dan menempati urutan ke-6 bersama Kenya di dunia, menurut data BPS, masih ditemukan angka kemiskinan sebesar 62 juta jiwa (28,44%), jumlah pengangguran terbuka sebesar 11,6 juta jiwa, jumlah pengangguran dari kalangan sarjana 300.000 orang pertahun, dan jumlah hutang luar negri sebesar US$ 150 milyar atau setara dengan Rp 1.830 triliun, hutang dalam negri Rp 650 triliun, jumlah total dalam dan luar negri Rp 2.030 triliun.

Dalam sejarah, konon hanya dengan bambu runcing, Belanda, jepang dan Inggris dapat diusir. Seperti terbunuhnya Jenderal Mallaby, yang menurut DR. Ruslan Abdulgani hanya “kecelakaan”; saat itu sedang dilakukan perundingan di Gedung Internatio. keduabelah pihak melakukan gencatan senjata. Di tengah panasnya suasana perundingan, tiba-tiba dari belakang Gedung Internatio, datang sekumpulan orang dari etnis Madura. Mereka membawa bendera merah putih yang merahnya diambil dari darah, bergelombang membuat kerusuhan di depan gedung.Tentara sekutu yang menjaga perundingan itu akhirnya melepas tembakan. Menyulut kegaduhan. Ruslan Abdulgani, salah satu saksi sejarah, melihat perang berkecamuk, ia bersembunyi di sebuah lubang dekat sungai. Jaraknya tidak sampai 100 meter dari Jenderal Mallaby. Tidak lama setelah itu terdengar bunyi ledakan. Tidak jelas apa yang baru saja meledak.

Hanya, di tengah suasana tidak terkendali itu, tiba-tiba datang seseorang menghampiri Ruslan Abdulgani. Katanya, "Belandanya sudah terbunuh, Cak”. (yang dimaksud Belanda adalah Mallaby). Terbunuh karena kecelakaan.

Namun bagaimanakah merubah dan memutar balikan paradoks itu? DR.Yusuf Qardawi menawarkan alternatifnya; dengan memiliki salah satu dari tiga kekuatan. Pertama, kekuatan senjata atau militer yang biasa digunakan berbagai negara modern untuk menundukan lawan politiknya seperti terjadi di Cina ketika memadamkan pemberontakan menuntut kebebasan. Kedua, majlis niyabi atau DPR yang memegang penentuan dan perubahan undang-udang dalam sistem demokrasi dimana menteri dan presiden harus tunduk dan tidak bisa mengatakan”tidak.” Ketiga; kekuatan rakyat(opini publik) yang besar, dimana ketika bergerak tidak bisa dibendung dan ditekan bagai tsunami atau banjir bandang, bahkan militerpun tidak berkutik seperti terjadi pada revolusi Iran.

Saat ini peluang yang terbuka adalah majlis niyabi dan kekuatan rakyat, dan seharusnya kita malu oleh menteri luar negri Vatikan Kardinal Tarscisio Bertone, dalam jumpa persnya pada Senin, 6 September 2008 di tengah hingar bingar persiapan pemilu yang akan dihelat, ia berseru kepada seluruh warga Katholik, ”catholics should make their moral choices and voices heard in the ballot box,” dan tanpa malu malu petinggi gereja katolik Roma itu mengatakan ”religion is not like smoking, it is not something that can be tolerated in private but strictly controlled in public.” Karena dalam kristen tidak ada anjuran ikut campur dalam urusan negara, syiar mereka, ”berikan apa yang menjadi bagian kaisar bagi kaisar dan bagian Tuhan bagi Tuhan.” Tidakah kita merenungkan apa yang di katakan imam Al Gazali ”dunia adalah ladang akhirat, agama tidak bisa sempurna tanpa dunia, negara dan agama adalah bagai dua sisi mata uang, agama adalah dasar, dan kekuasaan politik adalah penjaganya. Sesuatu yang tanpa dasar akan runtuh dan dasar tanpa penjaga akan hilang?” Bukan untuk mencari kekuasaan tapi seperti dikatakan DR. Yusuf Qardawi, ”sesungguhnya negara dalam islam adalah aqadiyah fikriyah atau negara yang berdiri di atas aqidah dan manhaj, bukan hanya sebatas mesin pengaman yang menjaga umat dari serangan musuh dari dalam dan luar, akan tetapi tugasnya yang lebih besar dari itu adalah mendidik umat kepada ajaran dan prinsip islam, menyediakan suasana kondusif agar aqidah islam dan ajaranya berpindah ke realita nyata, menjadi contoh bagi yang mencari hidayah dan hujah bagi yang menempuh jalan kesesatan.” Karena kita tidak ingin hancur seperti analisa ibnu kholdun, ”faktor yang membuat sebuah peradaban mundur dan hancur adalah rendah diri, pasrah dan cinta pada dunia.”

Terakhir penulis mengajak bahwa saat ini bukan lagi saatnya mengutuk orang lain dan menghindar dari kegelapan. Akan tetapi menyalakan sebuah lilin seperti pesan pepatah Cina, “lebih baik menyalakan sebuah lilin daripada mengutuk kegelapan.” Dan bila ada dari saudara kita yang mampu atau mencoba menyalakan lilin maka tugas kita adalah melindungi lilin itu dari terpaan angin kencang agar tetap terang dan tidak padam. Walahu a’lam.

Selengkapnya......

Sang Idealis Yang Terpental


Oleh: Ahmad Adi Adriana

"Manusia adalah kalkulasi dari fokus yang beragam"(sayid qutb)
Terpaan arus lingkungan yang tidak bersahabat dan ketidak sesuaianya dengan imajinasi awal, menjadi kambing hitam akan ketidak-berdayaan menaklukan Mesir. Semangat membara seakan surut bagai tak pernah ada di saat dihadapkan dengan rintangan. Idealisme yang di bawa dari Indonesia hanya menjadi bahan pembicaraan lalu, seakan lupa bahwa idealisme tersebut adalah salah satu faktor yang mendorong kita berani melangkahkan kaki meninggalkan kampung halaman. Dan harapan memperbaiki diri tergilas oleh kebiasaan buruk yang sudah melekat dan mendarah daging. Kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi seperti itu adalah " sang idealis yang terpental" atau kasarnya, "sang pecundang".

Ternyata sudah sekian lama kita menjadi seorang pecundang -tidak bisa menyamakan antara kata-kata dan realita diri- dengan indikasi wajarnya berpura-pura dan menutup-nutupi idealisme, lebih disibukan oleh hal-hal yang tidak ada hubunganya dengan apa yang kita anggap penting. Menolak mengakui kejujuran hati bahwa sebenarnya kitalah yang tidak berdaya dan menyerah, bukan karena lingkungan yang tidak bersahabat dan sewaktu diingatkan kembali tentang idealisme itu secepat kilat memeras otak mencari cari alasan yang tepat untuk dijadikan sebagai kambing hitam.

Seorang pecundang selalu lantang berkoar-koar tentang sebuah idealisme yang melangit namun seiring waktu tidak ada tanda-tanda akan terwujud. Bahkan yang menyedihkan; realita yang ada bertentangan dengan kata-katanya yang manis. Ketika sikap pecundang ini terus dipelihara dan mendominasi, maka masalah yang ada menjadi seperti ombak besar yang menerjang, datang dan memukul jatuh dan kita pun terseret. Saat berjuang untuk bangkit, kembali datang ombak besar lainnya yang menjatuhkan kita untuk kedua kalinya dan menghempaskan kita ke tanah dan satu-satunya kelegaan yang dipunyai adalah dengan melepaskan diri kepada aktivitas yang tidak penting. Inilah waktu dimana kita dikatakan menyerah dan menjadi seorang pecundang. Kita tidak sama dengan orang sukses -yang dalam sebuah penelitian- mempunyai kebiasaan mengerjakan hal-hal yang tidak suka dikerjakan oleh orang gagal. Walaupun mereka belum tentu suka mengerjakanya, namun ketidak-sukaan mereka tundukan pada kekuatan tujuan mereka. Lebih parah daripada itu adalah tidak mau mengakui bahwa kadang kita menjadi seorang pecundang. Sikap seperti ini biasanya membuat kita menipu dan membenarkan diri dan sering melibatkan rasionalisasi atau kebohongan yang rasional pada diri sendiri dan orang lain. Maka sudah saatnya kita mengerahkan segenap usaha untuk sedikit demi sedikit melepaskan label pecundang pada diri kita. Tidak lagi menyalahkan lingkungan dan orang lain, karena itu percuma dan membuang banyak energi. Tidak jauh berbeda seperti orang yang digigit ular berbisa. Dan bukannya segera mengambil tindakan untuk mengeluarkan bisanya alih alih mengejar ular tersebut yang mengakibatkan terdorongnya racun ke seluruh sistem peredaran darah.

Walaupun kita tidak bisa memastikan usaha tersebut akan berdampak positif tapi bukankah ketika kita mengangkat satu ujung tongkat maka ujung lain akan menyertai.

Ada satu hal yang lebih penting dan harus didahulukan sebelum memulai langkah perbaikan yaitu memeriksa ulang apakah idealisme yang kita miliki sudah sesuai dengan suara hati dan prinsip yang benar ataukah hanya berdasar kepentingan hawa nafsu yang terikat pada pencarian harta benda, ketenaran, kekuasaan, kesenangan, atau egoisme pribadi -yang seperti dinamakan sebuah hadits dengan kata wahn; cinta dunia dan takut mati. Biasanya konsekwensi dari itu adalah perjalanan mencari jati diri tidak akan pernah berakhir pada ketenangan; kita mungkin akan disebut orang yang mampu menembus kedalaman samudra dan keluasan langit biru tapi kita tidak akan pernah disebut sebagai spesies yang mampu berjalan di atas muka bumi sebagai manusia. Wallahu musta'an.

Selengkapnya......
 

kajian ISLAH Copyright © 2009 http://kajian-islah.blogspot.com by kajian Islah's zagazig-tafahna