Tampilkan postingan dengan label Taufan Januardi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taufan Januardi. Tampilkan semua postingan

Mengenal Eksistensi Tuhan


Bagi kita orang beragama, tidak dapat dipungkiri bahwa hidup di dunia ini membutuhkan Tuhan, karena Tuhanlah -yang memberikan nikmat dan kehidupan- kita memiliki sandaran ketika mendapatkan ujian ataupun musibah. Tuhan dengan sebutan apapun itu, manusia tetap membutuhkan sesuatu di luar dirinya selain manusia lainnya yang dapat menopang semua keluh kesah serta semua harapannya. Sehingga tidak aneh jika pada zaman dahulu manusia kerap kali menciptakan tuhan-tuhan untuk mereka sembah, walaupun ketika tuhan-tuhan yang mereka ciptakan sendiri itu tidak relevan dan tidak efektif lagi, maka dengan sendirinya ajaran agama serta tuhan-tuhan mereka pun berganti seiring berjalannya waktu.

Adapun bagi orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan maka hidup mereka bersandarkan kepada diri sendiri serta kepada hukum kausalitas yang mereka anggap alamiah tanpa melibatkan peran Tuhan di dalamnya. Mereka beranggapan bahwa Tuhan, Nabi serta apa yang dibawanya itu tidak lebih dari sekedar dongeng belaka. Dimana sosok Tuhan dihadirkan dan lahir dari pemikiran manusia itu sendiri, bersifat gaib, suci serta digambarkan berbeda dengan makhluknya, adapun sosok nabi sendiri dipandang sebagai pembohong yang membawa risalah. Seiring berjalannya waktu, kultur alamiah membentuk kita untuk melihat kepada sesuatu yang bersifat fisik dan materi yang bisa diraba ataupun dilihat oleh panca indera manusia, sehingga muncul pernyataan-pernyataan bahwa Tuhan itu haruslah bisa dilihat dan dirasa secara kasat mata.

Kalaupun tuhan itu tidak bisa dilihat ataupun bersifat abstrak, maka tuhan itu tidak ada dan hanya karangan manusia belaka. Akan tetapi bisakah akal manusia membuktikan eksistensi Tuhan?

Disadari ataupun tidak, sedari zaman dahulu manusia selalu mencari eksistensi Sang Maha Pencipta dengan akalnya. Bahkan contoh kecil akal selalu berpikir mengenai eksistensi adalah ketika kita kecil terkadang sering bertanya-tanya kepada diri sendiri mengapa kita terlahir sebagai tubuh dan perasaan kita yang ini, keluarga yang begini, di lingkungan ini, serta dengan kondisi yang seperti ini? Lalu mengapa tidak terlahir sebagai orang lain ataupun menempati posisi teman kita sehingga kita pun bisa melihat diri kita dan orang lain melalui kacamata teman kita, bukankah itu akan terlihat lebih bagus? Ya akan terlihat bagus, karena kita sendiri yang mempunyai kehendak untuk berandai-andai dan mengatur segalanya agar berjalan seperti apa yang kita pikirkan. Dan tentunya orang lainpun akan berpikir dan berandai-andai seperti kita, sehingga setiap kita mempunyai kehendak mengatur hidup di alam ini. Ataukah hal seperti contoh tadi adalah suatu kebetulan biasa sehingga setiap kita menempati posisi masing-masing secara kebetulan tanpa ada yang mengatur? Hal lebih luasnya manusia berpikir tentang alam semesta ini, keteraturan serta hukum kausalitas yang ada di alam semesta ini, dimana ada sebab pasti ada akibat begitu juga sebaliknya, sehingga alam semesta ini terjadi pasti ada sebabnya. Dan manusia berpikir apakah penyebab terjadinya alam semesta ini, apakah terjadi secara kebetulan tanpa sebab ataupun ada sebab akan tetapi sebab yang terjadi secara alamiah, ataukah ada penyebabnya yaitu eksistensi sang Maha Pencipta yang menciptakan alam semesta ini?
Para filosof terdahulu telah menyadari bahwa ada eksistensi yang Maha Agung, walaupun kadang mereka masih meraba-raba. Plato misalnya, ia termasuk salah satu filosof yang berbicara mengenai eksistensi Tuhan, bahwasanya Tuhan adalah Sang Pencipta dan pengatur alam semesta ini sehingga tercipta sedemikian teratur dan rapi sehingga faktor kebetulan begitu kecil peluangnya jika dikatakan alam semesta ini terjadi secara kebetulan tanpa ada yang mengatur dan menciptakannya. Dan Plato sendiri mengemukakan bukti-bukti tentang eksistensi Tuhan diantara yang terpenting adalah bukti tentang kerapian. Plato berpendapat bahwa alam ini merupakan suatu tanda keindahan dan kerapian, selamanya alam ini tidak mungkin terjadi secara kebetulan melainkan dia adalah ciptaan Zat Yang Berakal, Maha Sempurna, Pemilik Kebaikan, dan Pengatur segala sesuatu berdasarkan maksud dan hikmah tertentu. Akan tetapi Plato terbentur dengan akalnya sendiri ketika hendak menggambarkan bagaimana Tuhan membuat alam semesta ini dari sesuatu yang tidak ada, ataupun tercipta dari ketiadaannya atau disebut juga dengan creatio ex nihilo, oleh karena itu dia berpendapat bahwa semua makhluk itu tersusun dari materi dan bentuk sehingga dari bentuk itulah yang membuat materi menjadi benda-benda tertentu.

Pada akhirnya kerumitan alam semesta ini akan menggiring akal manusia serta menunjukkan bahwa ada kekuatan di luar diri manusia yang Maha Mengatur segalanya dengan sempurna. Karena alam semesta ini terlalu rumit dan sempurna jika dikatakan terjadi secara kebetulan. Ketika kita mendengar kata “kebetulan” gambaran kita adalah sesuatu yang terjadi secara tidak sengaja dan jarang terjadi. Apakah bisa dikatakan kebetulan ketika ada kumpulan huruf di suatu kotak, dan kotak tersebut terjatuh dikarenakan gempa, maka setelah terjadi gempa kumpulan huruf itu akan membentuk suatu kata atau membentuk kalimat atau bahkan menjadi sebuah paragraf, apakah mungkin terjadi yang seperti itu? Kalaupun menjadi suatu kata yang terbentuk, mungkin logika kita akan membenarkan bahwa terbentuknya kata dari sekumpulan huruf yang disebabkan gempa tersebut adalah suatu kebetulan. Ketika dikatakan kumpulan huruf itu membentuk kalimat dikarenakan oleh gempa maka logika kita akan berkata itu mungkin saja terjadi akan tetapi sulit dibayangkan. Dan jika dikatakan kumpulan huruf itu membentuk kata dan dari kata menjadi kalimat dan bahkan menjadi suatu paragraf, apakah sesuatu kumpulan kata itu mungkin membentuk paragraf yang dapat dibaca layaknya tulisan yang dibuat oleh seorang penulis? Sampai tahap ini baiklah kita katakan bahwa terbentuknya huruf menjadi kata, kalimat atau paragraf itu sebagai suatu proses yang mungkin terjadi secara kebetulan walaupun sulit sekali untuk dibayangkan bahwa kumpulan kata itu dapat terbentuk menjadi sebuah kata, kalimat bahkan menjadi sebuah paragraf yang rapi dan bisa dibaca.

Mungkin ada yang berkata contoh kumpulan huruf yang dicontohkan oleh penulis terlalu mengada-ada ataupun kecil kemungkinannya, walaupun kita hidup di alam yang penuh dengan kemungkinan. Dengan sendirinya logika kita akan berkata terlalu rumit jika kumpulan huruf itu terbentuk menjadi sebuah paragraf tanpa ada yang menyusun dan terjadi secara kebetulan. Lalu bagaimana dengan alam semesta ini yang tercipta begitu kompleks, tersusun rapi dan berjalan secara beraturan, bukankah keteraturan alam semesta ini suatu contoh yang amat sangat rumit jika dibandingkan dengan kumpulan huruf di kotak tadi? Lalu bagaimana bisa alam semesta yang sedemikian teratur ini terjadi secara kebetulan dengan sendirinya? Tentunya kita tidak percaya jika dikatakan kendaraan, pakaian dan rumah yang kita tempati terbentuk ataupun tercipta secara tiba-tiba dan kebetulan tanpa ada yang membuatnya. Kalaupun hukum kausalitas menjadi suatu standar yang dipahami dan dipakai oleh manusia, maka bukankah ketika kita menelusuri sesuatu apapun itu pada ujungnya nanti akan bertemu pada satu muara, yaitu sebab pertama yang menyebabkan semua yang ada di alam semesta ini tercipta?
Tidak semua yang tidak bisa dilihat, tidak bisa dipikirkan oleh akal dan diraba dengan panca indera kita itu tidak ada, karena panca indera kita adalah sesuatu yang terbatas, bahkan untuk melihat sesuatu yang jauh pun kita tidak bisa dan membutuhkan alat bantu. Ketika ilmu pengetahuan manusia sampai kepada taraf tertinggi menurut pandangan manusia, maka akan ada dua kemungkinan yang akan mengarahkannya. Yang pertama, manusia akan merasa bahwasanya ada eksistensi Tuhan yang Maha Tahu yang menyebabkan segalanya dan menganggap alam semesta ini tidak terjadi secara kebetulan. Dan yang kedua, manusia yang menganggap bahwa segala sesuatu terjadi di alam semesta ini secara alamiah yang disebabkan oleh sebab akibat seperti berjalannya rantai makanan pada ekosistem. Wallahu a’lam bish shawab.

Selengkapnya......

Ujian Itu Bernama Kehidupan



Oleh : Taufan Januardi


Hidup ini adalah ujian. Dan manusia tidak akan bisa tumbuh berkembang tanpa adanya ujian. Akan tetapi tidak semua dari kita bisa menyikapi ujian yang diberikan Allah SWT dengan sebagaimana mestinya. Begitu juga dengan imtihan yang akan segera kita hadapi yang merupakan salah satu dari sekian banyak ujian yang ada, tidak hanya kemampuan intelektual kita yang diuji dalam imtihan ini akan tetapi ruhaniah kita juga diuji ketika itu, karena dengan modal usaha tamam muqorror saja belum cukup, ada peran doa dan hubungan yang baik antara hamba dan Allah SWT di sana.

Adapun orang yang lulus dengan hasil yang memuaskan tanpa disertai dengan doa bisa jadi kurang terasa berkesan, akan tetapi sebaliknya, walaupun sakit rasanya, kita akan merasa puas jika usaha dan doa sudah maksimal walaupun kenyataan yang terjadi tidak seperti apa yang didambakan. Akan tetapi kembalikanlah segala sesuatunya itu kepada Sang Pencipta yang tentunya jauh lebih mengetahui segala macam hikmah di baliknya.

Setiap kita pernah merasakan ujian, akan tetapi tidak setiap kita bisa memaknai artinya, karena penyikapan kita terhadap ujian itu berbeda dan kadar ujiannya pun tidak sama. Ada orang yang hanya terduduk lemas dan bersandar pada dinding penyesalan tanpa pernah bangkit hanya meratapi kepingan harapannya yang telah hancur terlindas kenyataan dan terbentur takdir karena asa dan realita tak pernah berjalan berdampingan. Adapula orang yang berani menghadapi ujian itu dengan keyakinan dan kedewasaan.
Apabila disuguhkan kepada kita beberapa cangkir kopi dengan berbagai corak cangkir yang berbeda mulai dari cangkir keramik, logam, kaca hingga cangkir plastik yang biasa-biasa saja, mungkin mayoritas diantara kita lebih memilih kopi yang dituangkan dan disajikan dengan cangkir keramik, logam ataupun paling sederhana yang kita pilih yaitu cangkir dari kaca. Sedikit sekali yang berminat minum menggunakan cangkir plastik jikalau kondisinya adalah memilih diantara berbagai macam cangkir tersebut. Mungkin kita merasakan rasa nikmat tersendiri tatkala menengguk kopi dari cangkir keramik yang kita pilih dan juga akan merasakan rasa yang berbeda pula apabila kita menengguk kopi dari cangkir plastik yang biasa saja padahal isi dari kesemua cangkir itu sama dan dari satu sumber teko yang sama akan tetapi tampilan luarnyalah yang membuatnya terlihat elok ataupun berbeda sehingga paradigma orang yang merasakan minum dari cangkir tersebut pun serasa berbeda.

Begitupula kehidupan ini. Terkadang kita hanya melihat dan merasakan sesuatu berdasarkan yang terlihat oleh kasat mata saja, cukup menilai sesuatu hanya dari luar tanpa pernah menelusuri apakah yang terlihat dari luar itu sama dengan apa yang berada di dalamnya. Kita cenderung memilih sesuatu yang kita anggap indah serta ideal dan itu wajar saja selama kita manusia. Ibarat kopi dalam cangkir, kehidupan kita adalah kopi yang seharusnya lebih kita nikmati rasanya daripada sekedar melihat cangkir yang menghiasinya. Adapun cangkir dari apapun bahannya hanyalah penghias kehidupan yang seringnya digunakan sebagai pemanis ataupun sarana dalam mengarugi kehidupan ini. Akan tetapi kerap kali kita lebih terfokus kepada cangkir daripada isinya, kita lebih terfokus kepada suatu hasil terlepas hasil itu memuaskan ataupun tidak. Isi cangkir itu adalah kehidupan yang semestinya lebih kita nikmati, isi cangkir itu adalah jerih payah usaha di setiap hembusan nafas kehidupan kita, isi cangkir itu yang akan lebih bernilai dibandingkan cangkir yang mewadahinya karena bagaimanapun juga sesungguhnya yang kita inginkan adalah kopi tersebut bukan cangkirnya. Begitupun Allah SWT yang memberikan kehidupan kepada kita, Allah SWT tidak melihat cangkir yang mewadahi kopi tersebut karena “cangkir” tersebut sekedar penghias yang dibuat sedemikian rupa oleh Allah SWT.

Kekayaan, kedudukan, penghormatan, wajah yang rupawan, najah ataupun rasib adalah cangkir yang mewadahi kopi dan bukanlah segalanya dalam hidup ini. Meskipun cangkir tersebut merupakan ujian bagi siapa saja yang memegangnya. Akan tetapi Allah SWT lebih melihat kepada usaha dalam mencapai hasil yang kita inginkan dan itu merupakan ujian di dalam ujian, karena kalaulah ternyata hasil yang kita tuai adalah ketidaksesuaian dengan harapan kita, maka bisa jadi itu menjadi jalan perubahan bagi kita atau Allah SWT sedang memuliakan kita dengan ujiannya ataupun juga malah sebaliknya kita mengutuk dan mencerca jerih payah yang pernah kita lakukan tatkala kita ingin mencapai tujuan yang ingin dicapai. Dan itulah ujian hidup sesungguhnya, yang mungkin saja orang yang memiliki cangkir bagus tidak lebih baik daripada orang yang mempunyai cangkir biasa. Bahkan mungkin bisa dipandang gagal dalam pandangan manusia pada umumnya.

Ujian sudah di depan mata. Tak kita hampiri pun ia akan datang dengan sendirinya dan hasil bukanlah segalanya karena Allah-lah yang menentukan hasilnya. Dan Allah SWT tidak akan pernah dzalim dengan usaha yang dilakukan hamba-Nya kalaupun ternyata sudah usaha sekuat tenaga akan tetapi predikat rasib yang didapat maka ujian yang kita dapat lebih besar daripada ujian yang orang lain dapat dan natijahnya pun akan lebih besar di mata Allah SWT jikalau kita bisa mengerjakannya dengan baik.

Disamping kita musti optimis dengan apa yang kita cita-citakan, terkadang kita juga musti melihat sesuatu itu dari belakang ataupun dari sudut terburuk yang tidak kita inginkan. Karena ketentuan keinginan ada dua; kalaupun keinginan kita sejalan dengan realita maka itu yang kita harapkan benar-benar terjadi, adapun kemungkinan yang kedua adalah jikalau asa kita tidak berbanding lurus dengan kenyataan yang terjadi maka hal itu merupakan suatu ujian buat kita.

Cobalah sejenak ataupun sesekali kita melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin kita akan objektif dan lebih bisa melihat kekurangan diri tatkala dipandang dari kacamata orang lain. Begitu juga untuk menghargai sebuah hasil yang kita capai selain dengan cara bersyukur kepada Allah SWT terhadap apa yang telah dikehendaki-Nya, mungkin ada baiknya juga jikalau kita memposisikan diri sebagai orang yang belum beruntung diberikan hasil yang memuaskan. Adapun bagi orang yang merasa dirinya gagal serta hasil yang didapat jauh dari kata sempurna ataupun belum mendapatkan kenajahan, mungkin di setiap detik waktu yang berjalan terasa amat lama, yakinlah selalu Allah SWT sedang memperhatikan kita, cuma bagaimana kita menyikapi bentuk perhatian Allah SWT itulah yang musti kita respon dengan sikap terbaik. Karena tidak akan pernah merasa hina walaupun hasil yang didapatkan jauh dari sempurna di hadapan manusia jika kita menggantungkan segala urusan kita kepada Allah.

Kita tidak pernah tahu rasanya sakit karena terjatuh jikalau kita belum pernah terjatuh. Kita tidak pernah tahu pilu rasanya bertepuk sebelah tangan jika kita belum pernah merasakan sisi lain dari mencinta dan kita tidak pernah merasakan lamanya waktu berlalu apabila kita belum pernah merasakan kehilangan. Untuk mengetahui itu semua, tidak perlu menunggu mengalami kondisi seperti itu, karena ujian setiap kita berbeda dan yang menjadi sama untuk kita semua adalah apakah kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari apa yang kita dapat dan kita lihat.

Janganlah seperti orang merugi atau orang kafir yang menyesali diri di kemudian hari tatkala ternyata janji Allah SWT itu benar adanya. Jangan pula seperti Fir’aun yang begitu angkuh dan enggan menerima kebenaran yang disampaikan oleh nabi Musa AS sehingga butuh ditenggelamkan untuk mengorek isi hatinya dan mengakui kebenaran yang dibawa nabi Musa AS. Jangan pula menjadi orang-orang yang hanya bisa diam termangu menunggu, karena kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya dan waktu akan terus berjalan tanpa pernah menoleh dan tanpa pernah menghiraukan apa yang terseret sang masa. Selalu tanamkan dalam diri kita “hope for the best and prepare for the worst” karena kita tidak pernah tahu bagaimana hasil yang akan kita dapatkan kelak. Wallahu a’lam bi shawab.

Selengkapnya......

Apa Peran Kita Untuk Mereka?


Oleh: Taufan Januardi


Pernahkah terpikir mengapa Gandhi dikenal sebagai tokoh fenomenal yang dapat menggerakan rakyat India? Mengapa juga Soekarno hanya dengan pidatonya mampu membakar semangat rakyat Indonesia? Dan mengapa Ayatullah Khomaeni dengan kata-katanya mampu melakukan revolusi? Mungkin karena mereka adalah orang-orang berbakat pilihan Tuhan dan kharismatik yang begitu besar sehingga mampu menggerakkan orang-orang di sekeliling mereka guna melakukan perubahan ataupun revolusi.Akan tetapi sadarkah kita: kita juga makhluk istimewa dengan beragam bakat dan potensi.

Tergantung bagaimana kita menggunakan bakat, kemampuan ataupun potensi yang kita miliki dalam berkontribusi di dalam kehidupan bermasyarakat. Tidaklah mengapa jikalau tidak sepiawai Gandhi dalam bertutur kata ataupun meyakinkan orang lain, karena mungkin setiap kita mempunyai caranya sendiri-sendiri dalam berkontribusi terhadap masyarakat, bangsa ataupun agama.

Contoh tokoh-tokoh di atas adalah orang-orang besar yang berhasil berkontribusi serta membawa perubahan di lingkungan sekitarnya dan mungkin secara tidak langsung kita pun merasakan perubahan yang dihasilkan oleh mereka. Dan tentunya mereka tidak langsung terlahir menjadi orang besar. Seyogyanya mereka melewati usaha-usaha ataupun kontribusi kecil terlebih dahulu sebelum bisa melakukan perubahan dan pengaruh besar bagi masyarakatnya. Kalaulah kita hanya termangu menunggu akan terlahirnya orang-orang besar yang akan membawa kehidupan ke arah yang positif ataupun kepada perubahan yang lebih baik -tanpa pernah berusaha- maka akan memakan waktu yang panjang atau mungkin sia-sia. Berharap mereka akan melakukan segalanya dan berharap mereka menggerakkan kita untuk melakukan perubahan seperti halnya suatu negara mengharapkan hadirnya Ratu Adil untuk merubah keadaan negerinya.

Maka musti berapa lama kita menunggu? Haruskah kita habiskan sisa umur kita hanya untuk menunggu? Dan sayangnya orang besar adalah makhluk langka yang tak terlahir dari sebuah penantian sahaja. Mereka sama halnya seperti kita, hanya yang berbeda adalah kontribusi mereka sehingga mereka menjadi orang besar.

Maka beruntunglah kita sebagai muslim, di setiap apa yang dilakukan jika disandarkan kepada Allah SWT. Atau dengan kata lain melakukan sesuatu diniatkan untuk menggapai ridho-Nya maka dihitung sebagai pahala. Oleh karena itu, marilah kita ikut berperan berkontribusi untuk masyarakat, bangsa, negara dan agama, terlebih kita sebagai delegasi dari daerah kita masing-masing.

“Jangan remehkan hal-hal kecil karena di situlah letaknya kesempurnaan,” begitulah yang dikatakan Michelangelo, seorang seniman terkemuka. Dan memang benar adanya karena takkan pernah berdiri kokoh suatu bangunan tanpa ada unsur terkecil dari bangunan itu yang terlihat maupun tidak terlihat tentunya. Sekecil apapun itu kontribusi kita, diakui atau tidak, dihargai ataupun tidak dihargai, jadi orang besar atau tidak, adalah merupakan salah satu batu bata pembangunan menuju perubahan yang lebih berarti. Karena yakinlah setiap apa yang kita lakukan, walaupun tak seorang pun melihat, masih ada Allah Yang Maha Melihat.

Mungkin saja karena kebaikan yang tidak sengaja kita lakukan ataupun dari infaq yang kita berikan kepada orang lain, yang menurut kita kecil dan bukan apa-apa atau tidak ada artinya sama sekali bagi kita, bisa jadi bagi orang lain adalah sesuatu yang amat sangat berharga. Dan itu hanyalah salah satu contoh saja dari sekian banyak realita yang ada. Serta bentuk-bentuk kontribusi kita terhadap perubahanpun beragam sesuai kemampuan dan profesi kita masing-masing. Maka tunjukanlah apa yang bisa kita persembahkan untuk masyarakat, negara dan agama kita.

Selama kita adalah manusia maka kita makhluk sosial yang lemah tanpa orang lain di sekitar kita. Dan tanpa adanya orang-orang di sekitar, kita bukanlah siapa-siapa. Maka dari itu ketika kita membutuhkan orang lain dalam kehidupan, mau tidak mau kita juga harus ikut berperan dalam memenuhi kebutuhan orang di sekitar kita jika memang benar-benar adalah mahkluk sosial. Karena idealnya makhluk sosial itu seperti halnya seorang muslim, tidak hanya membutuhkan orang lain akan tetapi berguna juga bagi sesama. Dan sekarang pertanyaannya, kontribusi apa yang akan kita berikan kepada mereka? Wallahu alam bi As shawab

Selengkapnya......
 

kajian ISLAH Copyright © 2009 http://kajian-islah.blogspot.com by kajian Islah's zagazig-tafahna