Oleh:
“Apa tujuan ke Mesir?” Belajar. Belajar dalam ruang lingkup akademis. Sebuah jargon lama dan nasihat berulang dari mulut senior. Semakin lama itu terulang, semakin mengakar dan mendarah daging tersimpan di alam bawah sadar. Menjadi kata terucap tanpa datang dari lubuk kesadaran penuh penghayatan. Kemudian timbul klasifikasi orang dari jargon itu; bodoh dan pintar, berbakat tidak berbakat, masa depan cerah atau masa depan suram. Tapi bukankah itu menyesatkan. Keliru dan membawa pada dunia kering dan penuh ketidakpastian. Bertujuan baik tapi bertentangan dengan penelitian. Membatasi belajar dengan hanya satu potensi kecerdasan. Dan memelihara penjajahan nilai diri berdasar kasta dari tingkat kecepatan memahami kata. Dan kiranya lebih tepat “apa tujuan ke Mesir?” Berproses. Yah untuk berproses.
Itu menyesatkan karena penelitian modern membagi kecerdasan kepada tujuh bentuk; linguistik, kinestetik, spasial, logika matematis, musik, interpersonal, dan intrapersonal. Kemudian menilai serampangan dengan meratakan secara paksa potensi setiap orang, sehingga membunuh hasrat atau dengan arti lain memadamkan motivasi, antusiasme, gairah, dorongan, ambisi, semangat menyala dan mata yang bersinar: membuatnya tidak mampu berkontribusi karena kehilangan kreativitas dan produktivitas. Karena hasrat adalah misteri di balik keyakinan dan harapan yang menjadi pondasi awal meledaknya kreatifitas dan produktifitas. Dan sebuah klasifikasi buta berdasar tradisi. Bukan berdasar potensi.
Sebenarnya semua itu terbentuk oleh kurikulum pendidikan yang hanya memenuhi satu kecenderungan; kecerdasan logika matematis. Dan Itu tetap terpelihara oleh persepsi tanpa sadar. Kemudian menjadi warisan dari generasi ke generasi berikutnya. Dan akhirnya penyamarataan membabi buta. Seperti sebuah ilustrasi kisah menarik berikut:
Alkisah, binatang-binatang memutuskan bahwa mereka harus berbuat sesuatu yang heroik untuk mengatasi masalah ‘dunia baru’. Merekapun mendirikan sebuah sekolah. Mereka menggunakan kurikulum kegiatan yang terdiri atas berlari, memanjat, berenang, dan terbang. Untuk memudahkan administrasi, semua binatang mengambil semua mata pelajaran.
Bebek ahli sekali dalam berenang, lebih baik sebenarnya dibandingkan gurunya, dan memperoleh hasil yang bagus sekali dalam pelajaran terbang, tetapi ia sangat buruk dalam berlari. Karena lambat dalam berlari, ia harus tinggal sesudah sekolah usai dan juga melepaskan pelajaran berenang untuk berlatih lari. Ini diteruskan hingga kakinya yang berselaput pecah-pecah dan kemampuan renangnya menjadi sedang-sedang saja. Tetapi kemampuan yang sedang-sedang saja dapat diterima di sekolah, jadi tak seorangpun khawatir soal itu selain si bebek.
Kelinci memulai sebagai murid terpandai di kelas dalam pelajaran berlari, tetapi mengalami gangguan mental karena harus belajar berenang.
Tupai ahli sekali dalam memanjat sebelum ia frustasi dalam pelajaran terbang karena gurunya menyuruhnya memulai dari tanah ke atas dan bukan dari puncak pohon ke bawah. Ia juga menderita kejang-kejang pada kaki dan tanganya karena latihan yang berlebihan dan ia mendapat C untuk memanjat dan D untuk berlari.
Elang adalah anak yang suka menimbulkan masalah dan harus didisiplinkan dengan keras. Dalam pelajaran memanjat ia mengalahkan semua yang lain menuju puncak pohon, tetapi ia berkeras menggunakan caranya sendiri untuk tiba di sana.
Pada akhir tahun ajaran, seekor belut abnormal yang dapat berenang dengan luar biasa dan juga dapat berlari, memanjat, dan terbang sedikit mendapat nilai rata-rata tertinggi dan mengucapkan pidato perpisahan.
Anjing padang rumput tidak diterima di sekolah dan menentang pungutan pajak karena tata usaha sekolah tidak mau menambahkan pelajaran menggali dan bersembunyi pada kurikulum. Mereka menitipkan anak-anak mereka pada luak dan belakangan bergabung dengan tikus tanah dan marmut tanah untuk memulai sekolah swasta yang berhasil.
Maka sebenarnya tidak ada klasifikasi, kasta, strata dan perbedaan. Semua sama, memiliki potensi kecerdasan masing-masing yang beragam dan bervariasi. Tidak ada tempat untuk kata bodoh dan pintar, hanya ada kata rajin dan malas. Itu saja. “Itulah mengapa” kata Anis Matta dalam sebuah ceramahnya, ”Umar bin Khottob di dalam sejarah tidak pernah diperintahkan sekalipun untuk memimpin sebuah peperangan, yang diperintahkan justru Kholid bin Walid, itu bukan karena Umar tidak bisa memimpin peperangan tetapi karena ia mampu melakukan lebih daripada itu. Ia mampu memimpin kekhilafahan. Dan Kholid bin Walid belum tentu sukses jika diminta memimpin negara, walaupun juga apakah Umar bisa sesukses Kholid bin Walid jika memimpin pasukan yang sama dan menghadapi momentum peperangan yang sama sulitnya”.
Ibnu al Qayyim misalnya, membuat daftar ilmuwan-ilmuwan muslim setelah Rasul wafat. Berjumlah seratus sampai seratus sepuluh orang. Kemudian ia mengklasifikasikanya menjadi tiga tingkatan. Dan dari tujuh ilmuwan terbesar di kalangan sahabat nama Abu Bakar tidak tercantum di dalamnya, tapi sejarah mencatatnya sebagai khalifah pertama.
Paradigma ini mungkin terkesan idealis. Tapi bukankah Allah telah memberikan ruang untuk adanya perubahan dengan firman-Nya, “sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. Dan mari masih ada waktu, peluang dan kesempatan untuk mengembangkan bakat kecerdasan bervariasi itu. Melepas semua stereotif yang selama ini menyuburkan keterbatasan dan menggantinya dengan sebuah optimisme, bahwa kita ada bukan untuk menjadi orang lain tapi berkontribusi berdasar kapasitas kita masing masing yang variatif. Masa lalu biarlah berlalu, ia telah menjadi abu bersama waktu. Semoga dengan ini terbentuk sebuah tatanan sistem saling menghargai dan menghormati.
Memaknai Kecerdasan
Cahaya Islam
Oleh:
Banyak buku berjilid-jilid, karangan penulis dari berbagai negara, mendongengkan kemajuan Islam masa silam. Menggambarkan kesejahteraan rakyat sebuah kerajaan atau negara yang dipimpin oleh pemimpin yang memilki kwalitas ketakwaan kepada Allah yang luar biasa. Memimpin rakyatnya penuh dengan amanah dan tanggungjawab, adil dalam segala hal, bijak dalam mengambil keputusan. Karena memahami kedudukan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Sehingga rakyat benar-benar puas dan bangga mempunyai seorang pemimpin. Kesejahteraan yang mencapai pada puncaknya, sehingga tidak ada seorangpun yang mengeluhkan sesuatu kepada pemimpinnya, karena ketentraman yang dirasakan. Nabi pernah berkata kepada `Adi bin Hatim -yang ketika itu dia belum memeluk Islam, “wahai `Adi kelak di kemudian hari engkau akan melihat wanita datang seorang diri dari Hiroh (nama tempat di negri Syam) menuju Makah tanpa ada sedikitpun rasa takut akan dirinya”. Kemudian nabi melanjutkan, “itu adalah masa ketika Islam mencapai kejayaannya, ketika semua orang mengucapkan satu kalimat yang sama laa ilaha illallah”. Pada saat itu tidak ada sedikitpun kehawatiran seseorang akan hartanya, bahkan jiwanya.
Yang jadi permasalahan adalah dimanakah Islam itu saat ini? Bukankah jumlah umat Islam begitu banyak, sepertiga penduduk bumi adalah umat Islam. Namun mengapa keadilan tidak terlihat? Mengapa kesejahteraan hidup tidak kunjung datang? Tidakkah mereka bersatu untuk mengembalikan kejayaan Islam yang artinya adalah kemakmuran bumi ini? Atau umat ini rela menyaksikan ketidakadilan yang terus merajalela, sejak kekuasan terlepas dari umat Islam? Benarlah apa yang dikatakan nabi bahwa jumlah umat Islam nanti akan sangat banyak tetapi tidak memiliki kwalitas, mereka layaknya buih di atas lautan, yang bisa terombang-ambing, mereka tunduk terhadap arus ombak kekuasaan yang menggerakannya. Begitulah umat Islam sekarang, bukan lagi batu karang yang tegar dengan deburan ombak.
Bukan saatnya lagi mencari kambing hitam keterpurukan umat Islam. Karena hal itu adalah ma`ruf bagi sebagian besar umat Islam. Sejak jauh-jauh hari nabi Muhammad telah mengabarkan sebabnya, beliau mengatakan dalam kelanjutan sebuah hadits bahwa yang menjadikan umat Islam seperti itu adalah penyakit wahn sudah melekat pada hati umat Islam; cinta dunia dan takut mati. Dalam hadits lain yang diriwatkan Abu Huroiroh beliau berkata, nabi Muhammad SAW bersabda: “Bukan kemiskinan yang aku khawatirkan terhadap kalian setelah sepeninggalanku nanti, akan tetapi yang aku khawatirkan adalah kalian berlomba memperbanyak harta”. Dalam riwayat lain “..yang aku takutkan adalah ketika dipermudahkannya dunia bagimu seperti dipermudahkan bagi umat-umat terdahulu”.
Inilah yang menjadi sumber keterpurukan Islam. Karena jiwa-jiwa pemeluknya terkotori oleh fitnah dunia, fitnah yang sangat ditakuti dan diwaspadai oleh Umar bin Khottob, sehingga beliau menghentikan sejenak program besar Abu Bakar; memperluas wilayah Islam atau futuhat islamiyah yang telah lama dicanangkan, guna menguatkan sisi keimanan agar tidak tergiur oleh segudang ghonimah yang diperoleh.
Kondisi ini benar-benar bertolak belakang dengan umat Islam silam. Yang mampu mendirikan daulah islamiyah hanya dalam rentan waktu yang sangat singkat. Daulah Islam yang dibangun nabi mulai dari nol, dirintis mulai dari tahun pertama hijrahnya beliau ke Madinah, kemudian berhasil membuka kota Makah, yang saat itu dikuasai oleh kaum musyrikin, dilanjutkan dengan futuhat islamiyah yang dilakukan Abu Bakar untuk membuka kota Romawi. Lima bulan setelahnya beliau mengirim Kholid bin Walid untuk membuka kota Hurmuz sebagai gerbang pertama untuk membuka Daulah Farisiyah. Dilanjutkan oleh Umar pada masa kekhalifahannya, dan mencapai puncaknya dengan jatuhnya Daulah Farisiyah tahun 26 H pada zaman Utsman bin Affan.
Daulah Islam, sebuah daulah kecil di jazirah Arab yang dibangun dalam kurun waktu yang sangat-sangat singkat tetapi mampu mengalahkan Daulah Farisiyah, daulah yang menguasai beberapa negara di dalamnya; dari negara Iraq di sebelah baratnya hingga ke timur sampai kepada China; daulah yang sudah berabad-abad lamanya berdiri, hingga mempinyai kekausaan dan pengaruh yang sangat besar. Seperti inilah sesungguhnya umat Islam. Bukan permasalahan ketika musuh-musuh Islam mempunyai kekuatan lebih besar, mempunyai tentara yang jauh lebih banyak, karena terbukti prajurit Islam yang berjumlah 12.000 mampu mengalahkan Daulah Farisiyah yang jumlah tentaranya jutaan.
Begitu juga saat ini, para mujahidin Gaza yang sedikit, dengan persenjataan seadanya mampu membuat tentara Amerika dan Israel strees meskipun persenjataan mereka jauh lebih canggih.
Setidaknya ada dua hal yang menjadikan umat Islam silam mampu melakukan hal yang sangat luar biasa. Pertama: Pondasi kepribadian kaum muslimin yang dibangun rosul di periode Makah. Ini adalah satu point yang sangat penting dan berpengaruh ketika periode pembangunan daulah Islam di Madinah, namun kebanyakan orang melupakan hal ini. Kebanyakan orang menemukan penyebab kebangkitan Islam di Madinah lantaran langkah cerdas yang dilakukan rosul ketika tiba di Madinah; mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan Anshor, membangun masjid -yang menjadi pusat kegiatan muslimin dalam segala bidang, membangun pasar -yang menjadi pusat ekonomi kaum muslimin, dan membuat perjanjian dengan Yahudi Madinah. Itu semua tidak salah, namun hal yang menjadikan kaum Muhajirin dan Anshor dengan mudah menjalani faktor-faktor tersebut adalah karena kwalitas kepribadian mereka yang dibentuk dengan begitu kokoh oleh rosul. Kepribadian yang berdasarkan keimanan yang suci, yang ditanamkan begitu dalam menancap di hati mereka, yang tak tergoyahkan oleh apapun. Keimanan yang melahirkan kepercayaan terhadap janji rosul bahwa Islam akan berjaya kelak, dan keimanan yang melahirkan semangat berjuang dan berkorban yang tak tertandingi.
Kesempurnaan pribadi muslim yang dibangun rosul ini yang menjadi kunci awal keberhasilan pembangunan daulah Islam, sehingga memudahkan rosul untuk melangkah ke langkah berikutnya. Memudahkan rosul dalam mempersaudarakan Muhajirin dan Anshor yang sama sekali tidak mempunyai hubungan apa-apa, bahkan belum mengenal sebelumnya. Dan memudahkan langkah-langkah selanjutnya dalam membangun daulah Islam, yang kemudian dilanjutkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Umat islam saat ini, tidak berbeda jauh dengan umat Islam silam, jika pemimpin dan setiap individunya masih berpegang teguh dengan al Quran dan sunah, memahaminya dengan pemahaman yang benar, kemudian tercermin pada kepribadiannya selaku muslim, niscaya langkah mengembalikan kejayaan Islam akan menjadi lebih cepat. Tidak akan ada lagi perpecahan, tidak akan ada lagi perselisihan sistem perundang-undangan organisasi atau negara, karena dengan ini, umat Islam akan dengan sendirinya mampu melihat mana
yang lebih baik bagi dirinya.
Hal kedua: Yang sebenarnya ini juga merupakan implikasi dari hal yang pertama, tak lama setelah kedatangan rosul di Madinah, rosul langsung diresmikan sebagai khalifah daulah Islam pertama. Yang artinya kekuasaan kota Madinah waktu itu berada dalam naungan Islam. Kondisi ini benar-benar membuat Islam mampu berkembang dengan pesat, kekuatan Islam semakin besar, dan dengan mudah menerapkan syariat Islam. Begitu juga pada masa-masa setelah nabi, saat kekuasaan masih dipegang oleh pemimpin muslim yang berkepribadian mulia. Kesejahteraan masih merata dirasakan rakyat, syiar-syiar Islam masih terlihat akrab bersama masyarkat, sementara kemaksiatan akan semakin jauh tak terlihat.
Benar apa yang dikatakan seorang ulama, “sesungguhnya perbaikan pemerintahan adalah gerbang hakiki untuk perbaikan-perbaikan yang lain”. Karena dengan itu, penentang kemaksiatan akan semakin kuat, dan kema`rufan akan terlihat dimana-mana. Belum lagi jika para pemegang kekuasaannya adalah orang-orang yang selalu merasa bahwa Allah senantiasa mengawasi dan meminta pertanggungjawaban, niscaya cahaya Islam akan kembali bersinar.
